e-Healthcare

PROVIDER KESEHATAN

Melayani Penerima Bantuan dan Pihak Terkait Kesehatan, mengenai:
  • Informasi Prosedur Pengobatan
  • Persutujuan Pengobatan dan Tindakan Medis
  • Konsultasi Pengobatan
Pensiunan Bank Indonesia
Hp. : 0815-974-1227
Hp. : 0815-905-0576
Pegawai Bank Indonesia
Hp. : 08111-662-808

Penggunaan Obat Rasional (POR)

Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi. Sampai saat ini obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Dengan demikian obat memiliki fungsi sosial dan seharusnya diutamakan dibandingkan dengan obat sebagai komoditas perdagangan.

Karena fungsi sosial tersebut maka harus terjamin kondisi-kondisi secara berkelanjutan, sebagai berikut:

  1. Keamanan, khasiat dan mutu obat. (melindungi masyarakat dari pengggunaan obat yang salah dan penyalahgunaan obat);
  2. Terlaksananya penggunaan obat secara rasional;
  3. Ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan (tepat biaya)terutama obat esensial.

DEFINISI PENGGUNAAN OBAT RASIONAL


Penggunaan Obat yang Rasional (POR) , Rational Use of Drug (RUD) atau Rational Use of Medicine (RUM) memiliki makna yang sama.


WHO mendefinisikan Penggunaan Obat Rasional, sebagai berikut:

"Pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan individual, untuk jangka waktu yang tepat dan dalam biaya terapi yang terendah bagi pasien maupun komunitas mereka."


Berdasarkan definisi tersebut dapat kita dapat simpulkan bahwa prinsip penggunaan obat yang dilakukan secara rasional memiliki kriteria, sebagai berikut:

  1. Sesuai dengan kebutuhan klinis pasien
    Obat diberikan berdasarkan ketepatan menilai kondisi pasien, misalnya penyakit yang menyertainya, kondisi khusus (hamil, menyusui, usia, dll) dan riwayat pasien. Obat dapat diberikan sesuai indikasi dan diagnosa yang tepat dengan pilihan obat yang mempertimbangkan efek klinis yang diharapkan.
  2. Tepat dosis, cara, interval dan lama pemberian
    Untuk mendapatkan efek klinis yang diharapkan diperlukan ketepatan dalam menentukan dosis, cara pemberian, interval pemberian dan lama pemberian obat.
  3. Biaya terapi yang tediri dari biaya pengobatan dan harga obat itu sendiri harus dipilih yang paling terjangkau bagi pasien, dengan tetap memperhatikan kebutuhan klinis pasien

Dengan pengobatan yang rasional, pasien akan menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dengan dosis yang tepat, untuk jangka waktu pengobatan yang sesuai, dengan kemudahan mendapatkan serta biaya yang terjangkau.


KENDALA-KENDALA


Fakta yang ada menunjukan bahwa ketidak-rasional pengguaan obat sering terjadi, seperti: polifarmasi, penggunaan obat non-esensial, penggunaan antimikroba yang tidak tepat, penggunaan injeksi secara berlebihan, penulisan resep yang tidak sesuai dengan pedoman klinis, ketidakpatuhan pasien (non-compliency) dan pengobatan sendiri secara tidak tepat.

Implementasi pengguaan obat secara rasional dapat terlaksana dengan baik jika regulasi yang telah ada dapat diterapkan dengan baik oleh pihak-pihak terkait pengobatan. Dalam kenyataannya penerapan tersebut mengalami kendala-kendala, seperti:

  1. Keterjangkauan obat dipengaruhi banyak aspek seperti geografis, ekonomi, sosial politik serta persebaran penduduk. Efek dari keadaan tersebut adalah keterbatasan pilihan obat yang ada.
  2. Obat masih diutamakan sebagai komoditas perdagangan, sehingga menghambat pelayanan kefarmasian yang baik. Hal ini terbukti dengan harga obat yang pada umumnya dinilai masih mahal dengan struktur harga yang tidak transparan disertai mekanisme harga yang diserahkan pada pasar. Keadaan tersebut memberikan peluang bagi perusahaan farmasi untuk mengganti merek degang dengan zat aktif yang sama. Inilah yang sangat memicu konflik kepentingan dalam pelayanan kesehatan baik secara individu, kelompok, bahkan lembaga.
  3. Manifestasi penggunaan obat secara tidak rasional yang dilakukan oleh dokter, seperti:
    • Dosis terlalu tinggi/ rendah;
    • Obat toksik yang tidak diperlukan;
    • Meresepkan obat yang tidak diperlukan (atau bahkan mahal);
    • Meresapkan obat yang dapat menimbulkan interaksi yang membahayakan pasien (efek samping);
    • Meresepkan obat yang tidak ditunjang bukti ilmiah Evidence Based Medicine (EBM) misalnya food suplement;
    • Polifarmasi;
    • Meresepkan obat berdasarkan apa yang diresepkan oleh seniornya;
    • Informasi obat yang tidak obyektif, dokter mendapatkan informasi obat sebagian besar dari perusahaan farmasi;
  4. Masih rendahnya informasi dan edukasi bagi masyarakat. Bersikap pasrah terhadap penangan pengobatan, tidak memberikan informasi secara baik dalam proses diagnosa (komunikasi buruk antara dokter-pasien), desakan pasien terhadap dokter, serta tidak patuh dalam proses pengobatan merupakan kenyataan yang banyak terjadi dan tidak dapat dipungkiri. Selain itu, masih adanya kepercayaan pada mitos-mitos, seperti:
    • Obat generik adalah obat murahan dan mutunya rendah;
    • Obat originator adalah yang terbaik;
    • Vitamin, suplemen makanan, obat herbal diperlukan untuk menjaga kesehatan, dll.

Istilah-istilah
  • Obat esensial yaitu obat terpilih yang paling dibutuhkan dan yang harus tersedia di Unit Pelayanan Kesehatan sesuai fungsi dan tingkatnya.
  • Polifarmasi yaitu penggunaan bersamaan 5 macam atau lebih obat-obatan oleh pasien yang sama dalam satu resep, terutama tidak sesuai dengan kriteria klinis. Polifarmasi meningkatkan risiko interaksi antara obat dengan obat atau obat dengan penyakit.
  • Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya.

Referensi
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Nomor 189/MENKES/SK/III/2006) tentang Kebijakan Obat Nasional
  • Penggunaan Obat secara Rasional oleh Prof. dr. Rianto Setiabudy, SpFK

RECENT POST